Showing posts with label Arsitektur. Show all posts
Showing posts with label Arsitektur. Show all posts

Wednesday, February 10, 2016

Kota yang Indah


Tijgersgracht
 
Bukan suatu yang berlebihan jika para penyair memuja kota Batavia karena kanal-kanalnya yang ramai untuk arteri transportasi. Juga bukan suatu kebetulan bahwa kanal utama kota sebagian besar dibaptis dengan nama yang berasal dari dunia hewan tropis. Ada kanal buaya, singa, badak, macan dan kerbau yang semuanya terhubung menjadi kanal lalu-lintas. Batavia adalah kota yang dibangun dengan model “Vaderlandsch”, dengan sungai besar sebagai kanal utama yang terletak ditengah diantara kanal-kanal dan konstruksi batubata.

Sungai besar tadi adalah sungai Ciliwung yang memiliki enam belas anak sungai, mengalir dari pegunungan yang biru, dengan air jernih penuh berkah. Batavia dibangun berdasarkan rencana yang solid. Sehingga tidak seperti Amsterdam, disini tidak ada aliran kanal yang berkelak-kelok.

Kanal-kanal Batavia, kecuali Kanal yang Lingkar ke Castle, merupakan potong-potongan yang masing-masing persegi panjang dan didistribusikan pada seluruh paralellogrammen kota yang benar-benar teduh karena pohon-pohon di sepanjang kanal. Kota ini dibangun di atas medan aluvial dan rawa, dan, setelah dipilih tempatnya, direncanakan oleh majelis kanal dan saluran air, dengan memperhitungkan aliran air, kanal-kanal ini  juga dapat dipakai lalu lintas diatas air. Untuk kepentingan perdagangan di sini semua bangunan penting diberi halaman dan memperbaiki ketinggian pada  jalan-jalan kota menjadi  Batavia baru .

Seperti di kota di Cape Colony (semenanjung Harapan) yang banyak yang terkenal diseluruh dunia memiliki nama-nama Belanda. Melihat itu, sebenarnya nama binatang tropis pada Kanal-kanal Batavia adalah penamaan yang salah kaprah. Harus diakui Sejarah yang kota ini bercerita tentang kenyataan bahwa kota ini berada pada lingkungan yang dulu masih hutan belantara penuh dengan binatang liar seperti buaya, badak, dan harimau, dan berubah menjadi perkotaan. Buaya misalnya, tidak hanya senang di daerah pedalaman, tetapi juga di kota. Dulu ketika Gubernur Jendral Carpentier kembali dari berburu, sesudah tiba di kota mendapati kuda yang sedang dimandikan di seret buaya ke kedalaman. Orang yang memandikan kuda itu hanya terbengong dan kemudian tergelincir. Sebagai balasannya pada tanggal 10 Agustus 1641 kanal di belakang gerbang Amsterdam, ada buaya tertangkap. Prajurit yang menangkap juga menemukan telur yang besar.

Alam memang sering membahayakan manusia. Pada 1692, tiga tentara digigit dan dianiaya buaya. Buaya itu kemudian ditangkap dan digantung. Binatang rakasa ini melawan dengan kaki belakang dan ekor yang kuat, menghantam tiang. "Ini," tulis penulis sejarah nakal, "adalah contoh pertama yang saya temui ada buaya di hukum di tiang gantungan.

Ada juga kanal kerbau. Di kota dengan beberapa penduduk asli disekitarnya yang bertani bukan hal yang aneh karena biasanya kerbau itu diperlukan untuk menarik bajak. Tetapi ada kanal yang diberi nama badak liar, itu baru aneh. Pada 1661 ditangkap oleh beberapa penduduk asli seekor badak di sekitar dinding benteng. Sedang kanal singa diambil dari nama binatang yang bukan asli di pulau ini, tetapi dibawa dari semenanjung Harapan untuk kebun binatang di istana. Satu dari antaranya lolos dari kandang dan kemudian ditembak oleh kapten Winkelerzand.

Namun, yang paling sering adalah pemberitahuan fragmentaris tentang harimau. Menurutnya selagi kecil binatang ini tidak begitu berbahaya ukurannya kecil dan indah seperti seekor anjing. Namun harimau benar-benar tidak boleh untuk bermain-main. Setengah abad setelah berdirinya kota mereka begitu banyak binatang ini di sekitarnya. Orang berharap binatang ini terjebak dalam lubang dan kemudiandapat dibunuh. Menurut catatan ada seekor harimau besar, orang menyebutnya sebagai harimau hitam, mungkin yang maksud adalah panter. Pada tahun 1659, seorang Melayu penebang kayu datang bercerita tentang harimau yang mengamuk ketika para budak malam itu sedang duduk di sekitar api dan kemudian lari kedalam hutan. Kejadian ini letaknya tidak jauh dari kota tepatnya di Ancol. Kemudian ada orang Tionghoa yang datang dan berhasil menangkapnya, orang ini mendapat selusin real sebagai hadiah.

Sunday, February 8, 2015

Toko merah

Di sebut toko merah karena dulu kusennya berwarna merah.  Bukan hanya kusennya yang berwarna merah, mebel yang ada didalamnya juga berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri ke Tionghoaan seperti hal kelenteng. Karena semuanya berwarna merah dan fungsinya sebagai toko, maka dinamai Toko Merah. Rumah ini di pertengahan abad ke 19 di miliki oleh Oey Liaw Kong. Dia membuka toko di sebelah Kali Besar yang pada waktu itu masih ramai sebagai urat nadi perdagangan. Warna merah bata baru di tambahkan pada tahun 1923 ketika bangunan ini dimiliki dan dipakai oleh Bank Voor Indie. Kalau kita melihat tampak bangunan ini sekarang, terdapat tulisan Toko Merah di depan, ini adalah tulisan yang baru. Demikian pula dengan kusen-kusennya, sekarang sudah tidak berwarna merah tetapi coklat dengan pinggir warna emas.
 
Bangunan ini dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff sebelum menjadi gubernur jendral VOC. Kemudian juga pernah menjadi milik putri Gubernur Jendral Mossel, Philippine Theodora. Karena umurnya yang sangat tua, gedung ini terasa angker. Apalagi ada cerita bahwa rumah ini pernah menjadi tempat persembunyian orang Tionghoa untuk menghindari pembantaian tahun 1740. Mengenai cerita yang terakhir ini meragukan, tetapi 
itulah cerita-cerita angker tentang Toko Merah   
 
Bangunan ini di pengaruhi oleh arsitektur Belanda di awal abad 18 dengan jendela besar-besar dan kaca kotak-kotak kecil. Jendelanya merupakan jendela geser keatas seperti rumah-rumah Belanda jaman dulu. Pintu depan dan tengah juga tinggi-tinggi.
 
Kalau kita masuk kedalam toko merah, yang kita temui adalah bangunan kosong karena mebelnya yang antik sudah dipindah ke pelbagai museum di Jakarta. Sedang tangga dari lantai dua ke atas ditutup oleh pemilik karena lantai atas merupakan tempat penyiksaan. Di lantai dua bagian belakang Toko Merah terdapat pintu-pintu yang lebar tetapi rendah.
 
Dibagian belakang Toko Merah merupakan halaman terbuka yang luas. Dulu mungkin merupakan tempat pelayan karena rumah ini merupakan rumah mewah didalam benteng Batavia. Lapangan terbuka ini menjadi halaman dalam yang terasa sangat privat. Sayang bangunan di sekelilingnya sudah baru dan tidak ada peninggalan jaman dulu.
 
Selain interiornya yang sangat luas dan tidak memiliki mebel, di sisi utara lantai satu terdapat beberapa loket untuk transaksi keuangan. Dibagian belakang lantai dua terdapat bekas tempat penyimpanan uang atau safe deposit box. Gedung ini mengalami pemugaran di tahun 1923 tatkala ditempati oleh Bank Voor Indie.
 
Bekas rumah dari Van Imhoff ini di bangun 1730, berarti satu abad setelah bagian barat Batavia di bangun. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bentuk rumah ini sebelum 1730? Tidak diketahui. Hanya saja kalau kita masuk kedalam rumah ini terasa aneh karena merupakan dua rumah yang digabungkan. Mungkinkah sebelum 1730 merupakan dua rumah-toko seperti rumah-rumah lain di Batavia yang kemudian digabung dan di pugar oleh Van Imhoff?
 
Selain pengaruh Eropa ada juga pengaruh Tiongkok mungkin kontraktor bangunan di Batavia kuno adalah Tionghoa. Pengaruh itu terlihat dari wuwungan yang sejajar dengan jalan berbeda dengan rumah-rumah di Amsterdam yang tegak lurus. Menurut fengsui, wuwungan yang tegak lurus dengan jalan membawa sial. Sehingga orang Tionghoa selalu membangun rumah dengan wuwungan yang sejajar dengan jalan.
 
Toko merah merupakan obyek yang menarik bagi mahasiswa arsitektur untuk ditulis sebagai tesis atau disertasi. Disamping bentuk dan ruang yang tercipta juga sejarah bangunan ini merupakan awal dari penelitian sejarah arsitektur di Indonesia, sayang kalau tidak diteliti dengan baik.

Penelitian Modern Tentang Kelenteng di Jakarta

Penelitian pertama tentang kelenteng di jaman modern dilakukan oleh Denis Lombart dan Claudine Salmon (Lombart and Salmon, 1985). Mereka mengamati 70 kelenteng di Jakarta dari sudut kehidupan social orang Tionghoa. Dari 70 kelenteng ini, hanya kurang dari 10 buah yang dapat di kategorikan kelenteng yang tua dengan arsitektur yang unik. Hampir semuanya kelenteng baru atau renovasi yang dibangun kurang dari satu abad. Mereka menerbitkan penelitian ini dalam bahasa perancis dengan ringkasan dalam bahasa Inggris. Ringkasan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Cipta Loka Caraka.  Walaupun penelitiannya berada di Jakarta, penelitian ini mewakili hampir semua kelenteng di Jawa. Karena karya ini konsentrasinya kepada Ilmu Pengetahun Sosial, maka kurang analisa arsitektir yang memang bukan tujuan buku ini. Lombart dan Salmon secara sistematis membagi kelenteng di Jakarta dalam periode sejarah dari abad ke 17 sampai dengan setelah 1945. Mereka sekilas mendiskripsikan tentang arsitektur. Hampir seluruh diskusi tentang ikonografi yang menjadi bagian dari arsitektur. Dari analisa sejarah, studi ini menghadapi kesulitan untuk menilik kelenteng yang dibangun diabad 17 atau sebelumnya. Kebanyakan kelenteng di Jakarta dibangun di jaman ini telah hilang karena turbulensi politik yang membakar seluruh bangunan tanpa bekas. Maka dari itu untuk mengenal kelenteng di abad 17, kita sebaiknyamelihat daerah di pantai Utara Jawa di mana orang Tionghoa bermukim sebelum abad 17. Penelitian ini tidak bias hanya tergantung pada manuskrip yang biasanya tidak lebih tua dari abad 17, harus dipelajari melalui arsitektur komparatif. Kelenteng tertua di Jakarta terletak di ujung Gang Petak Sembilan di daerah Glodok. Kelenteng ini dibangun tahun 1650 diluar tembok kota Batavia dan sedikit-demi sedikit menjadi Kelenteng yang penting (Lombart dan Salmon , 1985: 16). 

Disamping menjelaskan hirarkhi ruang dari kelenteng di Jakarta sebagai halaman depan, ruang utama dimana dewa dewi utama diletakkan, ruang samping dan ruang tambahan lainnya, sedikit banyak Lombart dan Salmon mengamati bentuk arsitektur kelenteng. Tetapi, mereka menerangkan bentuk tanpa arti dibaliknya yang penting dalam arsitektur. Walaupun jelas Tionghoa Jakarta terdiri dari beberapa kelompok dialek, kelenteng mereka tidak dapat tidak dapat di golongkan kedalam kelompok dialek mereka. Hanya kelenteng keluarga yang mungkin memiliki dewadewi secara khusus seperti kelenteng Chen dimanadewa Chen Yuan Guang di sembah. Kelenteng keluarga Lin yang dipuja adalah Tian Hou yang merupakan penjaga keluarga. Keduanya merupakan kelenteng tertua di Jawa (Lombart dan Salmon, 1985: 22). Dari periodisasi sejarah para penulis ini tiap periode kelenteng dibangun dibawah pengaruh situasi politik. Di awal abad 20 ketika dinasti Qing mengalami kemunduran diikuti dengan gerakan nasionalis Tiongkok di bawah Sun Yat Sen, orang Tionghoa Jakarta, dan juga di Jawa memilih membangun sekolah dari pada kelenteng. Semakin banyak orang yang mendapat pendidikan barat dan menghindari pemujaan tahyul. Sebagai ganti dari penyembahan tahyul orang Tionghoa lebih memilih memeluk agama Budha dari pada Taoism (Lombard dan Salmon, 1985: 30).

Di jaman kemerdekaan Indonesia, orang Tionghoa menghadapi masalah politik yang sulit. Tetapi ada 20 kelenteng yang dibangun semenjak 1950 (Lombard dan Salmon, 1985: 37). Dari analisa mereka mengklasifikasikan kelenteng menjadi kelenteng umum, kelenteng untuk kelompok orang, temple privat, kelenteng leluhur, dan kelenteng untuk pasar dan perdagangan. Deskripsi terakhir menarik jika dibandingkan dengan kelenteng di Jawa yang terletak dipasar atau ujung pasar seperti kelenteng Kanoman Cirebon, Kelenteng Kranggan Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

Lombart dan Salmon dengan menarik menjelaskan pengaruh dewa dan dewi dari Fujian dan Guang Dong terhadap dewa-dewi yang dipujan di Kelenteng Jakarta. Pada bagian ikonografi mereka menerangkan sejarah dewa dan dewi di kelenteng-kelenteng Jakarta dalam hubungannya dengan asalnya di Tiongkok. Ada juga dewa lokal seperti Sampo, Kwe Lak Kwa dan Mbah Jugo. Penulis ini mengungkap perbedaan dewa dan dewi antara kelompok hakka dan hokkien. Akankah perbedaan kelenteng antara kedua kelompok ini?

Tulisan Salmon di tahun 2001 adalah tentang hubungan kelenteng Tionghoa dan sejarah social. Analisanya dengan membandingkan antara kelenteng di Jawa dan Bali merupakan pekerjaan penting dalam merekontruksi sejarah orang Tionghoa. Dia menggunakan kelenteng untuk mengungkap sejarah. Materi sejarah seperti epigrafi di kelenteng adalah obyek sejarah untuk merajut sejarah. Dia menempatkan arsitektur kelententeng sebagai obyek sejarah. Karya penelitian Salmon adalah mencoba mengungkap sejarah lokal di antara orang Tionghoa di Indonesia, dia menghubungkan orang sebagai obyek sejarah dengan tempat tinggalnya. Ini adalah tulisan penting tentang sejarah social orang Tionghoa, tetapi bukan kelenteng sendiri, walaupun inskripsinya dipakai untuk sunber analisa. 

Tulisan Tentang Kelenteng

Rumah ibadah orang Tionghoa di Indonesia disebut Kelenteng. Kelenteng adalah kata dari Guan Yin Ting atau rumah ibadah Guan Yin (Lombart dan Salmon, 1985: 10).  Menurut Ezerman kata kelenteng dating dari suara lonceng yang datang dari kelenteng ketika ada upacara (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of Chinese community and the centre of Chinese cultural activity. Kelenteng merupakan pusat komunitas dan aktivitas budaya serta keagamaan orang Tionghoa. Ada 70 kelenteng di Jakarta tersebar di semua wilayah, ini memperlihatkan partisipasi orang Tionghoa sebagai bagian penghuni kota.

Tulisan tentang kelenteng di Jawa tersebar di beberapa naskah yang terfokus pada masalah ritual, epigrafi, iconografi dan sejarah komunitas Tionghoa. Tulisan tertua tentang kelenteng dibuat oleh ilmuwan barat I.W.Young dengan judul: Sam Po Tong La Grotte de Sam Po. Artikel ini ditertibkan di jurnal Tung Pao 1890 .

Young mendeskripsikan sejarah Chengho yang didewakan di kelenteng Gedong Batu di Semarang. Dia tidak menceritakan arsitektur kelenteng, tetapi mendeskripsikan manuskrip didalam kelenteng. Menurut Liem Thian Joe, kelenteng ini diperlebar tahun 1724 dengan dibangunnya pavilion (Liem 1933: 20). Kelenteng yang semula adalah gua telah ditutup bangunan. Arsitektur bangunannya berbeda dengan arsitektur kelenteng yang lain. Young tidak menyebutkan pelebaran kelenteng ini. Sekarang semua ini telah tiada karena diubah secara total, bangunan baru dibangun sebagai gantinya.

Adalah Ezerman, yang menulis tentang arsitektur kelenteng Tay Kak Sie di Ceribon, mendeskripsikan detail arsitektur kelenteng dan menariknya dia membandingkan dengan kelenteng di Tiongkok. Dia juga mendeskripsikan lukisan di dinding kelenteng dan inkripsinya. Bagi dia kelenteng Tay Kek Sie memang indah, tetapi kelenteng di Tiongkok lebih indah. Dia tidak menulis arti dibalik ruang dan konfigurasi bentuk dari kelenteng (Ezerman, 1922). Buku yang mengkompilasi kelenteng di jawa dan beberapa di luar Jawa ditulis oleh astrologer Empeh Wong Kam Fu. Karena pada waktu itu, Zaman Orde Baru, kebudayaan Tionghoa kebudayaan Tionghoa dilarang, pernerbit harus minta ijin dari kepolisian. Buku ini tebalnya 365 halaman, tetapi 139 halaman tentang Konfusius dan Budha yang ditulis dalam semangat Ketuhanan yang Maha Esa sesuai dengan Pancasila. Wong mengkoleksi 63 kelenteng dan 32 lithang. Lithang adalah hall bagi pengikut konfusius. Ruangan ini biasanya ditempatkan di bangunan baru yang kurang dari 50 tahun. Tetapi ada juga Lithang di kelenteng tua. Disamping Wong menjelaskan dewa dan dewi kelenteng, dia juga menulis fungsi ruang di dalam kelenteng. Karena Wong menulis banyak kelenteng, dia tiadak menjelaskan kelenteng secara detail.

Ada juga buku yang dipublikasikan tahun 1986 sebagai peringatan ulang tahun kelenteng Tay Kak Sie di Semarang yang ke 240 tahun, dimana ada dewa dan dewi yang biasanya dipuja di Jawa. Buku ini menfokuskan pada kelenteng Tay Kak Sie di Semarang, dan mengutip sejarah permukiman Tionghoa di Semarang dari bukunya Liem Thiam Joe.

Rumah Toko dan Rumah Teras di Batavia

Rumah toko atau ruko adalah tipe bangunan yang ada di seluruh Indonesia bahkan di kota terpencil sekalipun. Dimasa lalu karena keterbatasan konstruksi, hanya dibangun dua lantai. Sedang sekarang ruko ada yang dibangun sampai tiga atau empat lantai. Ruko biasanya bangunan tingkat dua atau lebih yang lantai dasar untuk toko  sedang di lantai atasnya untuk rumah tinggal. Ada juga ruko yang hanya satu lantai, bagian depannya untuk toko sedang bagian belakang untuk rumah tinggal. Biasanya tipe bangunan ruko denahnya memanjang ke belakang sampai 30 meter, sedang bagian depan sempit hanya 4 – 5 meter. Ruko hampir tidak punya halaman, kalaupun punya,halaman itupun sempit dan berbatasan dengan jalan dan tentu saja tidak punya pepohonan. Sehingga komplek ruko selalu gersang, panas dan berdebu.
 
Ruko itu hampir tidak ada yang berdiri sendiri tetapi merupakan rumah deret. Ada yang atapnya memanjang seperti rumah panjang ada juga ruko yang antara ruko atapnya dipisah oleh tembok tetapi tetap satu deret.
 
Pada ruko-ruko dipecinan yang dibangun beberapa abad yang lalu, tiap-tiap ruko atapnya memiliki ketinggian yang berbeda karena  dibangun dalam waktu yang berbeda. Ada kepercayaan bahwa kalau membangun rumah atapnya harus lebih tinggi dari atap sebelah rumah yang sudah ada terlebih dahulu.
 
Ruko-ruko di kota besar biasanya hanya memiliki pintu dibagian depan. Sehingga jika terjadi kebakaran penghuninya sulit untuk menyelamatkan diri. Pada ruko yang panjang biasanya denahnya memanjang sampai jalan di belakang rumah. Nah, untuk ruko yang ini punya pintu belakang, pintu ini sangat privat dan dari pintu belakang langsung ke ruang keluarga.
 
Dari toko di ruang depan orang harus lewat lorong gelap untuk sampai di ruang keluarga yang tenang. Di ruang keluarga ini terdapat sumur untuk kebutuhan air sehari-hari. Di atas sumur terbuka sehingga air hujan dapat masuk kedalam sumur. Di sekitar sumur penghuni dapat menanam bunga dalam pot. Ruang keluarga ini terasa dingin dan sejuk. Sangat kontras jika dibandingkan dengan jalan di depan rumah yang sangat panas dan gersang.
 
Tetapi tidak semua yang kita konotasikan dengan ruko itu untuk toko, ada rumah yang bagian depannya bukan untuk toko tapi ruang tamu. Rumah seperti ini disebut dengan rumah teras. Dibagian depan rumah teras selalu ada teras yang luasnya 1 – 1,5 meter untuk duduk santai disore hari sambil menikmati kopi. Rumah teras bentuknya hampir sama dengan ruko, tetapi pintu bagian depan kecil seperti halnya rumah biasa. Rumah teras ini selalu ada di Asia tenggara di bagian kota yang padat penduduknya. Pintu dan jendelanya selalu memiliki ornament yang indah karena bagian ini adalah satu-satunya yang dapat dilihat dari jalan. Atap rumahnya pun sama dengan ruko yakni berderet atau merupakan deretan rumah dengan satu atap.
 
Kedua tipe bangunan ini, ruko dan rumah teras banyak ditemui di Batavia, kota tua Jakarta yang padat penduduknya. Keduanya memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan tipe bangunan yang sama di tempat lain. Apa ke khususan dari rumah toko dan rumah teras di Batavia?


Arsitektur Ruko Batavia

Di dalam tembok kota Batavia semua rumah-rumah nya adalah rumah toko dan rumah teras. Dari peta tahun 1733 tergambar dengan jelas bahwa semua rumah didalam tembok kota tidak memiliki halaman dan berbatasan langsung dengan Jalan. Ini menunjukan wilayah didalam tembok memiliki kepadatan yang tinggi. Itulah mengapa para pejabat VOC membangun rumah-rumah baru di sepanjang Molenvliet, sekarang dinamai jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.
 
Berbeda dengan rumah toko di Pecinan yang pintu bagian depan terbuka selebar toko, di Batavia ruko-ruko terdiri dari beberapa jendela dan pintu yang lebar. Mereka tidak membuka dagangan sampai mencapai jalan secara bertumpuk-tumpuk tidak beraturan, tetapi lebih rapi dan teratur. Di Roa Malaka, di atas pintu dan jendela rumah diberi hiasan kaca kotak-kotak kecil, mirip dengan rumah-rumah Belanda dijaman itu.  Ruko-ruko merekapun tidak sempit di depan dan memanjang kedalam. Banyak rumah yang lebar di bagian depan.
 
Dari gambar Josias Cornelis Rappard seorang Kolonel Infantri KNIL (tentara kerajaan Belanda) kita dapat melihat bahwa toko di Batavia lebar dan bahkan terbagi menjadi dua ruang. Toko tadi bukannya terbuka lebar ke Jalan tetapi façade toko memiliki beberapa jendela yang lebar. Interior tokonya juga ditata dengan baik dan teratur dibandingkan dengan ruko-ruko di Pecinan Glodok. Barang-barang yang di jualpun bukan barang dagangan seperti hasil-hasil bumi, tetapi porselen, jam dinding dan produk yang tidak mengotori lantai. Ini menunjukkan bahwa orang Belanda senang kerapian dan kebersihan toko.  Pakaian para pengunjung tokopun rapi dengan mengenakan jas dan dasi.
 
Kalau kita telusuri lebih lanjut, gaya rumah pada awal pembangunan Batavia disebelah timur Sungai Ciliwung dan pembangunan rumah di sebelah barat sungai, setelah sungai itu diluruskan, berbeda. Rumah-rumah di sebelah timur dibangun di jaman Jan Pieterszoon Coen lebih kearah campuran gaya Belanda dan Tionghoa. Tetapi pada waktu pembangunan rumah-rumah disebelah Barat Kali Besar, pemerintah Belanda ingin menghilangkan gaya arsitektur ketionghoaan. Rumah-rumah di Leuweenstraat di bagian Timur Batavia menunjukan campuran gaya arsitektur Tionghoa dan Belanda karena kontraktor dan tukangnya Tionghoa. Sedang rumah Gustaf von Imhoff yang berada di sebelah Barat Kali Besar, sama sekali tidak terlihat gaya ke-tionghoaan nya, bahkan bergaya sangat Eropa. Mengapa?
 
Pada waktu pembangunan bagian Barat Batavia, menurut Gubernur Jendral Hendrick Brouwer rumah-rumahnya kurang mencerminkan ke Eropaan dan akhirnya kontrak dengan kontraktor Jan Con di batal kan. Selang beberapa saat kemudian, pembangunan kota di lanjutkan lagi. Tetapi, gaya arsitekturnya benar-benar di kontrol tidak boleh “mengandung” gaya Tionghoa, harus dengan gaya arsitektur yang benar-benar Eropa. Jan Con adalah orang Tionghoa yang membawa aroma arsitektur Tionghoa sedang orang Belanda pengennya benar-benar rumah bergaya Belanda. Sayang kita tidak dapat memperolah data mengenai gaya rumah yang ada di sebelah Barat Kali Besar karena di bakar pada saat kerusuhan 1740, hanya bekas rumah Gustaf van Imhoff dan sebagian deretan ruko yang masih ada. Gambar-gambar rumah di Batavia yang kita dapati hanya dari Johannes Rach yang banyak melukis bagian-bagian Batavia di tahun 1760 atau setelah terjadi kerusuhan 1740. 
 
Yang masih tanda Tanya adalah: Bagaimana gaya arsitektur rumah Nie Hoe Kong, kapten Tionghoa ketika kerusuhan 1740?