Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Saturday, February 7, 2015

Budaya Orang Batavia

Batavia adalah tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibawa oleh Belanda dan ethik Eropa lainnya, sementara itu kebudayaan Timur dibawa oleh orang Tionghoa, orang Arab, orang India serta kelompok etnik lain di Nusantara.
 
Di abad ke 17, di dalam tembok kota tinggal orang Belanda, orang Tionghoa dan para budaknya. Mereka hidup dengan mewah sejalan dengan kotanya yang makmur. Kemewahan itu dapat dilihat dari lukisan kuno  di mana tuan dan nonya berpakaian rapi, di temani budak-budaknya di belakang sambil memegangi payung dan Alkitab, pergi ke gereja.
 
Di Batavia jaman itu, pemerintah hanya mengenal gereja Katolik. Karena itu hanya tiga gereja yang dibangun di dalam tembok kota: Gereja Belanda, Gereja Portugis dalam tembok kota, dan Gereja Portugis di luar tembok kota yang masih ada sampai sekarang. Gereja ini dinamai Gereja Sion, yang berlokasi di ujung Jalan Pangeran Jayakarta. Ada juga gereja Melayu yang terletak di rumah sakit Belanda, di Selatan kota. Tetapi, rumah sakit Belanda ini telah hilang.
 
Mengapa ada gereja portugis, sedang kita tahu bahwa Batavia di perintah oleh Belanda? Gereja portugis ini bukan dibangun oleh Portugis yang beragama Katolik. Pada waktu itu agama Katolik adalah agama terlarang di Batavia kuno. Gereja Portugis ini juga gereja Protestan dan dibangun oleh Belanda. Gereja ini untuk para budak yang dibawa dari India dan berbahasa Portugis. Setelah tiba di Batavia, mereka dipaksa berpindah ke agama Protestan dan pemerintah membangun dua gereja protestan untuk mereka.
 
Selain gereja Protestan, ada juga kelenteng orang Tionghoa yang semuanya dibangun di luar tembok kota. Kelenteng terbesar adalah Jin De Yuan di Petak Sembilan. Tetapi dalam kerusuhan 1740 semua kelenteng di bakar habis. Hanya kelenteng Jin De Yuan yang dibangun kembali dan tempat disekitarnya dikenal dengan nama Glodok.
 
Kelompok etnik lain yang tinggal di Batavia adalah orang Bali. Mereka datang ke Batavia sebagai pedagang atau ada juga yang menjadi budak. Karena mereka beragama Hinda, dengan mudah dapat hidup diantara orang Tionghoa. Hampir semua orang Tionghoa menikah dengan perempuan Bali karena pada waktu itu tidak ada perempuan Tionghoa.
 
Disamping kelompok – kelompok etnik itu, Batavia menjadi tempat berdagang tekstil yang menarik bagi para pedagang dari India. Walaupun jumlah mereka kecil, mereka ikut serta mewarnai Batavia. Sekarang pedagang tekstil dari India banyak yang tinggal di Pasar Baru. Mereka berdagang disana bersama-sama orang Tionghoa.
 
Jangan dilupakan bahwa Batavia juga rumah bagi orang Arab. Mereka tinggal di Pekojan dengan masjid tuanya di Kampung Moor. Pekojan adalah nama untuk orang Koja, para pendatang dari Gujarat. Menurut De Haan, juga digunakan untuk menyebut orang dari Coromandel dan Gujarat.
 
Sekarang, disamping orang Tionghoa yang tinggal di Glodok, berbagai budaya Batavia menjadi warisan budaya masyarakat Betawi, yang disebut penduduk asli Jakarta. Kebudayaan mereka adalah campuran dari berbagai etnik yang tinggal di Batavia dan sekitarnya. Namun sekarang mereka kebanyakan tinggal di pingir Jakarta.
 
Semua itu merepresentasikan kebudayaan Jakarta Modern.


Daendels

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa pemberontakan orang Tionghoa 1740, orang Batavia sudah lupa dengan pembunuhan itu. Pulau Jawa sudah tidak lagi diperintah oleh VOC yang bangkrut diakhir abad ke 17, tetapi langsung oleh pemerintah Belanda. Seorang Gubernur Jendral yang baru Daendels tiba di Batavia pada tahun1803.
 
Salah satu Tugas utama Daendels selain membuat Batavia, sehat karena pada waktu itu Batavia benar-benar menjadi sarang penyakit, adalah mengorganisasi pertahanan untuk menghadapi Inggris. Di Batavia,di mana-mana banyak tumpukan sampah dan kanal-kanalnya menjadi dangkal dan sarang nyamuk. Setiap pelaut yang berlabuh di Batavia, pasti ingin cepat-cepat angkat jangkar karena takut terserang penyakit. Dalam keadaan itulah Daendels datang dengan segala resiko yang harus dipanggulnya.
 
Daendels berhasil mengembangkan Batavia kearah selatan di Weltevreden dengan berbagai gedung disekitar Waterloo Plein atau sekarang disebut Lapangan Banteng. Untuk pembangunan itu dia menghancurkan Kastil Batavia untuk diambil batu batanya guna membangun kota yang baru.
Dia berkeyakinan bahwa tembok kota tidak efektif lagi untuk melindungi kota yang sudah berkembang ke luar tembok, dan tidak dapat untuk menghadapi  musuh. Karena itu tembok kotapun di hancurkan. Dia memindahkan kompleks pemeritahan ke Lapangan Banteng.
 
Batavia yang indah telah pergi.  Tidak lama setelah penghancuran itu, seorang pelancong yang bernama Weitzel menulis:
 
“Kota Batavia bukan lagi metropolis seperti dahulu kala. Hampir semua bangunan penting dan rumah-rumahnya telah diruntuhkan kecuali gudang-gudangnya. Kastilnya menjadi tumpukan puing. Sebagian besar tembok kota telah diratakan, gerbang kota telah dihancurkan. Kota ini tidak lebih dari desa yang dikelilingi kanal yang lebar (….). Sepanjang Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) menjadi tidak lebih dari jalan kelam dimana masih tertinggal beberapa rumah didekat pusatnya” (Weitzel 1860:8-10).
 
Tindakan Daendel adalah kehancuran kota Lama Batavia yang kedua kali setelah dibakar pada kerusuhan 1740. Sekarang kita tidak dapat menikmati benteng yang sangat terkenal itu dan beberapa bangunan lain. Andaikata, pembangunan kota baru Batavia tidak dengan menghancurkan yang lama, sekarang pasti kota lama Jakarta akan sangat unik untuk pariwisata. Daendels seakan membuang masa lalu Batavia.
 
Selain itu Daendels juga menutup kanal-kanal sehingga menjadi kota yang bukan lagi saudara kembar kota Amsterdam. Kanal-kanal itu menjadi jalan dan banyak bangunan yang berubah bentuknya. Hanya Kali Besar yang tidak di tutup dan menjadi aliran sungai Ciliwung di dalam kota. Kebijakannya untuk menutup kanal-kanal di lanjutkan sampai 1817.


Munculnya Sebuah Kota.

Menurut Ong Tae Hae, Batavia adalah kota dataran rendah sebanding dengan kota-kota di Tiongkok seperti Shang Hai, dan perumahannya sangat padat (Ong 1849: 6). Kota ini dibangun tahun 1619 di atas puing Kota Jayakarta. Penjajahan dan dominasi adalah sifat yang selalu melekat pada fondasi pembangunan semua pemerintahan colonial; tetapi, untuk Batavia penjajahan itu menjadi sulit diterapkan karena setelah Jayakarta di kalahkan, semua penduduk aslinya ikut melarikan diri bersama pemimpinnya Pangeran Jaya Wikarta ke Banten, atau mereka menghilang begitu saja (Blusse, 1986: 3).

Sebelum dirampas VOC dan diganti dengan nama Batavia, ditempat ini telah ada keraton Pangeran Jayawikarta (Heuken, 1996: 28). Kemudian setelah Jan Pieterszoon Coen gubernur VOC menguasai tempat itu, dia membangan benteng di muara sungai Ciliwung. Pada paruh pertama abad ke 17, Belanda membangun kota benteng di sisi Timur sungai Ciliwung. Kemudian di pertengahan abad ke 17 sisi barat sungai ciliwung di bentengi untuk keamanan kota. Sungai Ciliwung kemudian mengalir ditengah kota sebagai sumber air dan diujungnya terletak Pelabuhan. Ini adalah sebuah disain kota yang sangat ideal dan jenius.

Leonard Blusse, di dalam disertasinya, menulis bahwa Batavia adalah kota Tionghoa karena penduduk aslinya lari ke Banten setelah VOC merampas dan menguasai tempat ini 30 Mei 1619. Penghuni yang masih tinggal di Jakarta adalah orang Tionghoa dengan komunitas kecil. Kekosongan kota ini membuat Belanda kesulitan untuk membangun permukimannya, dan benteng yang kuat untuk menghadapi musuh. Blussesmengibaratkan situasi ini sebagai “Penguasa tanpa rakyat seperti joki tanpa kuda”. Belanda sangat membutuhkan orang yang diperintah dan bekerja untuk VOC. Karena itu Jan Pieterzoon Coen melakukan segala cara membujuk orang dari mana saja untuk mengisi kota. Untuk memikat orang Jawa adalah tidak mungkin karena permusuhan, karena itu dia memikat orang Tionghoa yang akan menjadi komunitas penting di Batavia, nama setelah tempat ini jatuh ke VOC (Blusse, 1986: 52).

Pada awal Batavia, ada dua tokoh dalam komunitas Tionghoa: Jan Con dan Bencong (Blusse, 1986: 55), yang terakhir adalah kapiten Tionghoa yang pertama. Belanda puas dan sangat gembira dengan pemerintahannya kerena orang Tionghoa membayar tujuh kali lebih banyak untuk pembangunan tembok kota (Blusse, 1986: 56). Blusse membidik saat pembangunan kota dan orang Tionghoa memiliki peranan yang besar dalam finansial.

Batavia dibangun oleh orang Tionghoa. Dalam disertasinya, Blusse mengungkapkan bahwa peran orang Tionghoa dalam pembangunan Batavia bukan hanya kepandaian mereka sebagai tukang batu, tetapi juga sebagai kontraktor. Lim Lacco adalah kontraktor terbesar di jaman itu. Apakah kota-kota lain  dan benteng juga dibangun oleh orang Tionghoa? Dalam pembangunan kota Batavia, Jan Con mendapat pekerjaan yang dipesan oleh gubernur jendral yang baru Jacques Spex. Tetapi, selama pengepungan kota oleh Sultan Agung 1628-1629, banyak proyek bangunan yang terbengkalai.

Gubernur yang baru Hendrick Brouwer (1632-1636), memeritahkan pembangunan kanal di sebelah benteng (kastil). Rencana ini di motivasi oleh kenyataan bahwa kota Batavia masih disebelah timur dari liak-liuk muara sungai Ciliwung. Karena itu kanalisasi di bagian Barat harus segera dikerjakan dan pembangunan kota dibagian ini sudah tidak dapat di tunda. Untuk mengerjakan proyek ini Belanda sangat tergantung pada kontraktor dan mandor Tionghoa.

Menerut Hendrick Brouwer gubernur pengganti Spex:
 “Tidak ada orang Belanda yang bersedia mengambil kontrak proyek pembangunan seperti membuka kanal, memasok kayu, tanah liat dan batu.
Hanya orang Tionghoa yang berkecimpung di bidang ini. Tanpa pertolongan mereka pembangunan benteng Batavia dan kota akan membutuhkan waktu yang lebih lama.” ( Blusse, 1986: 60-63).


Selama Batavia berdiri ditengah suasana permusuhan, kontraktor yang loyal seperti Jan Con diperlukan Belanda. Pada waktu itu dia mendapat kontrak baru untuk menggali kanal Tionghoa. Tetapi untuk memberi Batavia “penampilan Belanda” kontrak tadi dibatalkan. Sebagai gantinya pada tanggal 13 Mei 1636 Jan Con diberi pekerjaan konstruksi  Rhinoceros Gracht di sebelah Barat Kota dengan harga 2/3 Rial atau 32 sen per kubik depa. Di akhir tahun yang sama, dia menyelesaikan Pasar Ikan yang baru dengan kanal khusus untuk menfasilitasi pendaratan ikan. Menurut De Haan, selama periode yang sama, pengusaha yang tidak pernah lelah ini juga diberi  pekerjaan parit kota yang dalam, yang mengelilingi sebelah barat dan utara (De Haan 1935 I:79).

Melihat kenyataan pada waktu yang sama Jan Con menjadi supplier utama kapur, batu dan kayu uantuk pembangunan benteng kastil dan kota Batava, jelas proyeknya sangat besar dan melibatkan banyak orang. Proyek-proyek ini memberi kita impresi betapa sibuknya aktititas orang ini (Blusse, 1986: 63).

Pembatalan Kanal Tionghoa dan alasan untuk memberi penampilan belanda kewajah kota, memicu hipotesa bahwa tidak ada arsitektur Tionghoa di Batavia pada jaman itu. Hipotesa ini dapat dibuktikan melalui lukisan Johannes Rach tahun 1760 setelah pembunuhan orang Tionghoa. Dia melukis pemandangan Glodok di luar Tembok Kota dengan kelentengnya dalam arsitektur Tionghoa.  Sebaliknya di lukisan yang lain oleh Nieuhoff, rumah sakit Tionghoa di dalam tembok kota, jelas arsitektur Belanda. 


 Kelenteng Jin De Yuan abad ke 18

Kerusuhan 1740




Orang Tionghoa di Asia Tenggara menguasai perdagangan telah ditunjukkan dengan jung-jung mereka yang mendarat di pantai Pulau Jawa. Disertasi Blusse memiliki presentasi lengkap dalam kasus Batavia dan pasangannya Amoy di Tiongkok Selatan. Junk-junk tersebut yang mendarat di pantai Jawa Tengah dan Jawa Timur mungkin tidak berbeda dengan junk-junk yang mendarat di Batavia. Akibat dari pembunuhan orang Tionghoa tahun 1740 di Batavia, orang Tionghoa melarikan diri dan mencari perlindungan pada permukiman-permukiman Tionghoa lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampaknya adalah, mereka membawa perubahan politik di seluruh Pulau Jawa. Pembunuhan masal ini menimbulkan perang antara orang Tionghoa yang dibantu para pangeran Jawa melawan Belanda. Johannes Theodorus Vermulen menulis tentang orang Tionghoa dalam tragedy 1740 di Batavia. Dia mengkonstruksi proses terjadinya kerusahan, perubahan kota dengan latar belakang sejarah pembunuhan. Tulisan itu menganalisa pandangan politik dan dengan jelas menunjukkan kondisi sosial kota pada saat itu. OrangTionghoa yang tinggal di dalam tembok Batavia yang tidak terlibat pemberotakan, menjadi korban. Orang Belanda menyerang rumah dan rumah sakit Tionghoa, membakar permukiman meraka yang berada di sebelah Barat Kali Besar, Roa Malaka (Vermeulen 1938: 76).

Pemberotakan ini meluas sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Semarang orang Tionghoa di bunuh olah pangeran Madura yang bekerja sama dengan Belanda. Dengan mengamati peta tua Semarang, ternyata benar bahwa pada saat itu permukiman Tionghoa di sebelah Timur Kali Semarang dibakar dan mereka di pindah ke Pecinan di sebelah Barat. Di Gresik sekitar 400 orang Tionghoa juga dibunuh (Vermeulen 1938: 88).

Tulisan Leonard Blusse tentang orang Tionghoa menunjukkan bahwa tanpa orang-orang ini Batavia dan kota-kota lain mungkin tidak pernah berdiri. Bukan hanya Konstruksi bangunan dan infrastrukturnya di kontrakkan oleh Belanda kepada orang Tionghoa, tetapi mereka juga memegang semua bagian ekonomi kota di mana kehidupan perkotaan harus berdiri diatasnya.

Tesis Blusse tentang orang Tionghoa di awal Batavia memperlihatkan bahwa orang Tionghoa merupakan mayoritas dari penduduk kota. Karena orang pribumi Batavia telah melarikan diri ke Banten, yang ada hanyalah orang Belanda dan kelompok minoritas yang lain. Orang Belanda yang datang ke Batavia tidak ingin tinggal disini seumur hidup. Setelah mengumpulkan banyak uang mereka pulang ke Eropa. Sebaliknya orang – orang Tionghoa tetap tinggal dan menikah dengan orang Bali yang menjadi budak dan membangun keluarga disini. Karena itu Blusse menyebut Batavia sebagai kota koloni orang Tionghoa (Blusse 1986: 80-81). Bukan hanya di dalam tembok kota orang Tionghoa memiliki peran dalam pembangunan, di luar tembuk kota orang Tionghoa merintis pembukaan lahan pertanian.

Di samping peran orang Tionghoa dalam pembangunan kota, mereka juga berperan di daerah pedesaan. Pada awal abad ke 17 mereka membuka perkebunan tebu diluar tembok kota Batavia. Menurut Blusse ada 79 orang Tionghoa, 4 orang Belanda, dan satu orang Jawa sebagai enterprener di ommelanden (luar kota) Batavia. Menurut Blusse ada juga orang Tionghoa yang tidak ingin mendarat di Batavia untuk menghindari quota yang diterapan Belanda. Mereka mendarat di kota lain di pantai utara Jawa. Setelah 1740 Belanda menempatkan mereka di kamp Pecinan Glodok.

Sejarah pembantaian orang tinghoa tahun 1740 menginspirasi Novel “Matahari di Atas Batavia" yang ditulis Chen Ming-Sien untuk diterbitkan di klikbatavia.com.